Info menafaat: Kisah Abdul rahman Auf Seorang Jutawan Islam Pada Zaman Nabi S.A.W.


Abdul Rahman Bin Auf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Kaab bin Luayyi Al Quraisyi Az Zuhri lahir 10 tahun setelah tahun gajah dan tumbuh sebagai seorang pemuda yang teguh pribadi dan memiliki karismatik yang berkualitas.

Beliau mendapat pendidikan awal dengan sifat berani, tegas, toleransi, zuhud dan dermawan. Selain menjadi anggota ekonomi yang berwibawa dan amanah, beliau adalah antara sepuluh orang sahabat yang dijamin surga dan salah seorang dari 6 anggota pertemuan untuk memilih khalifah setelah wafatnya Al Farouk rha.

Dia meninggal pada tahun 31 hijrah dalam usia 73 tahun dan di maqamkan di Baqi ‘

sebelum Islam
Menjauhi penyembahan berhala, maksiat dan mungkar.

Lingkungan hidup dalam keluarga mulia dan bermartabat.

setelah Islam
Orang yang kedelapan memeluk agama Islam.

Bergabunglah program perkaderan di Darul Arqam.

Melakukan hijrah ke Habasyah sebanyak dua kali dan akhirnya ke Madinah Al Munawwarah.

Menyertai semua peperangan yang disertai oleh Rasulullah

Jati Diri Yang Kental
Abdul Rahman bin Auf telah dipersaudarakan oleh Rasulullah saw dengan Saad Ibnu Rabi’e seorang bangsawan dan jutawan Madinah (Al Ansar). Namun ia tidak mengambil kesempatan dan peluang untuk memboloti harta kekayaan saudaranya sekalipun ia mendapat tawaran yang lumayan termasuk memilih salah seorang dari istri saudaranya.

Sebaliknya ia meminta Saad menunjukkan kepadanya dimanakah pasar dan dia memulai bisnis dipasar tersebut dengan keringat dan semangat mandiri yang gigih.

berdikari

Prinsip kemandirian yang dimiliki oleh Abdur Rahman bin Auf menjadi formula dasar keberhasilan dan keunggulan nya. Berdikari adalah tanda harga diri individu yang bermartabat dan bebas dari hidup bergantung dengan orang lain. Prinsip inilah juga yang diajarkan oleh Rasulullah saw. buat semua ummat untuk membangun peradaban yang cemerlang.

Sabda Rasulullah saw .:

“Tidak ada sesuatu makanan yang baik melebihi apa yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Nabi Allah Daud makan dari hasil usahanya sendiri.” – Riwayat Bukhari

amanah

Keunggulan yang diperoleh dalam bisnisnya juga banyak tergantung pada sifatnya yang amanah, sifat inilah menempatkan dia sebagai pengusaha yang sukses dan beliau juga antara sahabat yang paling kaya di Madinah.

Rasulullah saw. pernah menyebut:

“Engkau adalah yang dipercaya (amanah) dikalangan penghuni langit dan engkau jugalah yang dipercaya (amanah) dikalangan penghuni bumi.”

taat
Pribadinya yang saleh dan taat kepada Allah swt pula menjadi modal utama yang menghasilkan kemajuan gemilang dalam karirnya sebagai seorang ekonom dan pengusaha. Pribadi ini diakui oleh baginda Rasul saw dengan sabdanya:

“Tidak dicabut roh seseorang Nabi sehingga ia shalat di belakang orang benar dari ummatnya.”

Manajemen Ekonomi Berorientasi Kesejahteraan

Sukses gemilang yang dicapai oleh Abdul Rahman bin Auf Rha. tidak membuatnya lupa daratan dan menyimpang dari manhaj Rabbani. Sebaliknya ia menangani kekayaannya dengan menabur bakti kepada agama, perjuangan dan ummah.

Dirilis oleh Abu Nuaim dalam kitab Al Hilyah dari Az Zuhri katanya:

“Abdul Rahman bin Auf telah bershadaqah di zaman Rasulullah saw. Setengah dari hartanya yang berjumlah Empat Ribu Dirham kemudian beliau mengorbankan 40 Ribu Dirham, 500 kuda di jalan Allah swt. Diikuti pula 1500 ekor unta di jalan Allah swt. Semua harta itu adalah hasil bisnisnya . ”

dermawan

Sikap inilah (dermawan) yang tercermin oleh Al-Quranul Karim sebagai sikap orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.

“Kamu sekali-kali tidak sampai (fakta) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu nafkahkan sebagian dari apa yang kamu sayangi. Dan sesuatu apapun yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Surah Ali Imraan, 92)

Kikir dan bakhil adalah merupakan sifat tercela yang merusak hubungan damai dan harmonis sesama muslim.

“(Ingatlah), kamu ini adalah orang-orang yang bertabiat demikian-kamu diseru agar menyumbangkan dan menghabiskan sedikit bagi harta benda kamu pada jalan Allah, maka ada di antara kamu yang kikir, padahal siapa yang kikir maka sesungguhnya ia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri . dan (ingatlah) Allah Maha kaya (tidak membutuhkan sesuatu), sedang kamu orang-orang miskin (yang butuh kepadaNya dalam segala hal). dan jika kamu berpaling (dari beriman, bertaqwa dan berderma) Ini akan mengganti kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan terkondisikan seperti kamu. “(QS Muhammad 38)

Sementara tamak haloba pula menghancurkan dasar kebajikan malah mendorong permusuhan dan hasad dengki yang macetnya perkembangan ekonomi ummah.

Membelanjakan Harta Demi Kesenangan Allah
Dirilis oleh Ahmad dari Anas rha. katanya: “Tatkala Aisyah rha. berada di dalam rumahnya, ia mendengar sebuah suara di Madinah. Beliau bertanya” Apakah yang telah terjadi? Kaum muslimin menjawab: “Kafilah Abdurrahman bin Auf terdiri dari 7 ratus unta.”

Maka bergemalah Madinah dengan teriakan suara tersebut. Aisyah rha. mengatakan aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Aku melihat Abdul Rahman masuk kedalam surga dengan merangkak. Ketika kata-kata nabi tersebut sampai ke pengetahuan Abdul Rahman bin Auf lalu beliau berkata, Jika aku mampu, aku akan masuk surga itu dalam keadaan berdiri.

Lalu dia menyerahkan semua unta tersebut di jalan Allah swt.

Dirilis oleh Abu Nuaim di dalam kitabnya Al Hilyah.

Peristiwa ini jelas mengisyaratkan bahwa Abdul Rahman bin Auf sekalipun dilimpahi harta kekayaan dalam hidupnya tetapi tidak sampai ia menjadi budak harta, bahkan juga tidak mampu untuk melalaikan ia dari mengingat Allah swt.

Situasi ini menunjukkan beliau menguasai harta bukan harta menguasai dia. Kedudukkan seperti inilah yang membuat seorang pengusaha benar – benar merdeka dan bebas dari belenggu fikrah maadiyyah.

Bahaya Fikrah Maadiyaah (Kebendaan)
Pengidap faham maadiyyah ini sangat berbahaya dan membawa virus yang sangat sulit untuk diobati. Mereka yang terpengaruh dengan faham maadiyyah hanya memikirkan soal dunia, duit dan hidup semata – mata.

Mereka tidak memikirkan bagaimana dosa, pahala, surga, neraka dan akhirat. Ini membuat mereka petualang yang hanya mementingkan diri sendiri, kekayaan dan kemewahan dengan tidak memperduli bagaimana cara meraihnya, apakah cara yang halal atau haram, baik atau buruk, hak atau batil, adil atau zalim, benar atau bohong, amanah atau khianat.

Apa yang lebih parah, golongan ini akan menjadi cinta dunia dan benci kepada mati. Jika seorang pengusaha bersikap seperti ini bukan saja tidak mendapat berkat dan rahmat dalam proyek atau bisnis mereka, bahkan mereka dimurkai oleh Allah swt.

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak menaruh ingatan akan menemui Kami (pada hari akhirat untuk menerima balasan), dan yang mereda (puas) dengan kehidupan dunia murni serta merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat (deskripsi dan tanda- tanda kekuasasaan) Kami, -Mereka yang demikian keadaannya (di dunia), tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka; disebabkan keingkaran dan kedurhakaan yang mereka telah lakukan. “(QS Yunus 7-8)

Renungi ungkapan ulama sufi terkenal Abu Sulaiman Ad-Darani:

Jika akhirat memenuhi ruang hati, maka dunia tetap datang mendampinginya, namun tatkala dunia yang memenuhi ruang hati, maka akhirat akan menyisih, karena sesungguhnya akhirat adalah suatu yang mulia sedang dunia adalah suatu yang keji.

Material (Kebendaan) Menurut Perspektif Islam

Islam tidak melarang umatnya mencari harta dan memiliki kekayaan, bahkan mengajarkan ummatnya mencari properti dengan metode yang tepat. Lihat lah bagaimana sahabat karib Baginda Rasul saw. seperti Abdul Rahman bin Auf menemukan harta dan memiliki kekayaan.

“Kemudian setelah selesai salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari karunia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala kondisi), supaya kamu sukses / untung ( di dunia dan di akhirat). “(Surah Al Jumua’h: 10)

Kebendaan merupakan bagian dari alat kelengkapan dan berfungsi sebagai alat bantu kekuatan. Justru itu Islam memberi ruang nyaman kepada ummatnya berdikari dan mengusahakan hasil bumi.

Namun begitu, materi yang diusahakan dan kekayaan yang dicita, bukan menjadi prinsip hidup yang mencetus memahami materi, segalanya sebagai sarana untuk menjulang syiar Agama Allah swt. bukan sebaliknya, yaitu menjadi hamba kepada benda dan kekayaan.

Kebendaan dan kekayaan diperlukan agar ummat Islam tidak bangsat dan hina di mata dunia, pula dalam waktu yang sama, ia tidak sampai membawa ummat Islam keperingkat ego dan congkak.

Pengusaha Yang Takut Kepada Allah Dan Manangisi Kemewahan Dunia
Dirilis oleh Abu Nuaim dalam kitab Al-Hilyah dari Naufal bin Ilyas Al-Hazili katanya: Abdul Rahman bin Auf rha. sering duduk bersama-sama dengan kami. Dia adalah sebaik-baik orang ketika duduk bersama-sama dengan kami, suatu hari ia meninggalkan kami dan tidak bersua dengan kami lalu kami pun masuk menemuinya di rumahnya.

Dia telah kembali ke rumahnya dan mandi, lalu kami menghidangkannya satu nampan roti dan daging. Bila makanan tersebut disajikan dihadapannya, ia pun menangis.

Kami bertanya kepadanya, “Wahai ayah Muhammad, apakah yang menyebabkan kamu menangis?”

Beliau menjawab: “Rasulullah saw. Telah meninggal dunia dalam keadaan beliau dan anggota keluarga beliau tidak pernah kenyang dengan makanan yang terdiri dari roti gandum.”

Aku berpendapat, kita tertinggal kebelakang dari apa yang lebih baik bagi kita.

(Dirilis oleh Tarmizi dan As Siraj dari Naufal dan semisalnya, sebagaimana dalam Isobah.)

Keberadaan Abdul Rahman bin Auf rha. ini sangat mencolok, tidak hanya melalui pribadi dan aksinya bahkan sikap dan prinsip beliau. Inilah yang membuat beliau sebagai seorang pengusaha yang sangat disenangi oleh penghuni bumi dan juga penghuni langit. Dia dijamin surga oleh Baginda Rasul saw.

Wallahualam …

Leave a Reply